Ketika Harus Memilih

1 Jun 2014

Ketika Harus Memilih

Ketika Harus Memilih

Satu hal yang membuat saya termotivasi didalam dunia militer adalah salah satu sikap Hirarki mereka yang menuntut kesetiaan terhadap apa yang mereka emban yaitu negara. Dalam dunia militer, ketika mereka baru tergabung telah diminta hal tersebut dan mengikat janji setia hingga titik darah penghabisan.

Kesetiaan itu juga berlaku untuk kelompok mereka yang berwujud dalam kesetia kawanan. Sebagai contoh yang saya temui, pernah terjadi di sebuah daerah Sunter Jakarta Utara dimana seorang anggota dianiaya oleh sekelompok gerombolan geng motor hingga babakbelur dan tewas dengan sebuah luka tusuk.

Atas kejadian itu, dalam hitungan jam situasi menjadi mencekam dengan hadirnya sekelompok lain dengan pita kuning di lengan kanan menyapu bersih daerah tempat kejadian tersebut dengan brutal tanpa belas kasih menghantam hampir seluruh kelompok sepeda motor yang tengah berada di lokasi tersebut. Diketahui bahwa kelompok pita kuning tersebut berasal dari anggota tentara yang sama dengan maksud balas dendam.

Dari beberapa pengakuan beberapa anggota tentara yang pernah saya sapa, mereka juga mengakui bahwa ada sebuah perjanjian kesetiaan itu dan dalam kasus yang saya sebut diatas wajar adanya. Beliau juga mengakui bahwa pengabdian terhadap negara adalah mutlak sepenuh jiwa dan raga dalam arti lain, mereka harus rela kehilangan nyawanya demi membela negara tanpa terkecuali sebuah keluarga.

Hal itu juga yang pernah ditunjukan oleh salah satu calon pemimpin bangsa Indonesia saat ini, yaitu Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang merupakan Purnawirawan Komando Pasukan Khusus ( KOPASSUS). Beliau adalah salah satu sosok pejuang setia dalam dunia militer Indonesia terutama saat memimpin operasi militer di Timor-timur.

Dan tepat pada saat tragedi 1998 yang merupakan tragedi terburuk negeri ini dimana ribuan masyarakat intelek dari seluruh daerah menghampiri pusat pemerintahan di daerah senayan dan mencoba menguasai gedung DPR-MPR. Singkat cerita, beliau merupakan pemimpin pasukan yang ditunjuk untuk mengamankan gedung tersebut dari demonstran agar tidak menguasai gedung itu. Meski jumlah demonstran saat itu terus bertambah namun beliau tetap dipaksa untuk bertahan dengan cara apapun.

Ketika harus memilih antara mempertahankan atau melawan dengan cara anarkis menggunakan peluru tajam dengan membabi buta. Menurut saya, beliau mengambil langkah yang tepat yaitu membiarkan para demonstran untuk menguasai gedung tersebut demi kebaikan dan perubahan bangsa ini dari pada harus mempertahankan keutuhan gedung tersebut hanya untuk kelompok tertentu dan harus membunuh para intelek muda masa depan negeri ini.

Bagi saya itu juga mewakilkan kesetiaan kepada negara. Oleh karena itu, Prabowo menjadi sangat dibenci oleh kalangan politik berkepentingan terutama oleh mertua beliau yang kala itu menjadi pemimpin negara ini secara dingin. Dan tidak jarang juga beliau dijadikan kambing hitam atas dasar HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi dalam tragedi tersebut.

Dengan alasan itu pula beliau diusir dari lingkup cendana dan lagi-lagi menjadi bukti bahwa beliau adalah tentara terbaik yang mengabdi sepenuhnya untuk negara ini. Beliau memilih untuk pergi meninggalkan cendana sekaligus istri tercintanya. Semoga pengabdian beliau untuk negara ini benar-benar terwujud demi mengembalikan kejayaan serta kedaulatan negara ini lagi di mata internasional dan tanpa adanya anarkisme yang telah terjadi dalam sejarah.


TAGS Selamatkan Indonesia


-

Author

Follow Me